cool hit counter

Antm Kegeser! 10 Saham Ini Paling Favorit Trading Sebulan

Jakarta, CNBC Indonesia – Sebanyak dua bank papan atas pada negeri ini berada pada urutan teratas saham paling poly ditransaksikan pada sebulan terakhir akumulatif (most active), selama Mei 2021, pada tengah kejatuhan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat, ke 2 saham tadi yakni PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).

Saham BBRI ditransaksikan sebulan terakhir Rp 10,1 triliun, menggunakan koreksi harga saham dalam periode tersebut minus tiga,33% pada Rp 4.060/saham. Volume perdagangan mencapai Rp 2,5 miliar saham dengan frekuensi 503.000 kali.

Sementara itu saham BBCA ditransaksikan Rp 9,6 triliun dengan volume perdagangan 300,4 juta saham & frekuensi perdagangan 228.400 kali. Harga saham bank milik Grup Djarum ini naik 2,25% di Rp 31.775/saham.

Sementara itu saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) yang biasanya paling ramai dan teratas ditransaksikan, berada di urutan ketiga menggunakan transaksi Rp 8,2 triliun. Volume perdagangan mencapai tiga,3 miliar dan frekuensi 430.000 kali. Saham Antam minus 0,85% di Rp 2.330/saham.

Sebagai perbandingan, saham ANTM dalam sehari memang mengalami harga saham antm penurunan transaksi sebagai akibatnya secara bulanan terpengaruh.

Pada awal tahun 2021 atau Januari 2021 yg masih sempat menyentuh kisaran Rp 1 triliun hingga Rp lima triliun per hari. Bahkan pada Desember 2020, nilai transaksi ANTM pun sempat hampir menyentuh Rp 10 triliun. Tapi dalam Selasa lalu (25/5), sebelum libur hari raya Waisak Rabu kemarin, saham ANTM ditransaksikan sehari hanya Rp 439 miliar.

Berikut gugusan saham-saham paling aktif pada 30 hari perdagangan akumulatif selama Mei 2021, kendati bulan ini belum berakhir.10 Saham Paling Aktif Sebulan

1. Bank BRI (BBRI), transaksi Rp 10,1 T, saham -tiga,33% Rp 4.060

dua. Bank Central Asia (BBCA), Rp 9,6 T, saham +dua,25% Rp 31.775

3. Antam (ANTM), Rp 8,dua T, saham -0,85% Rp 2.330

4. Telkom (TLKM), Rp 6,2 T, saham -0,90% Rp tiga.300

5. Astra (ASII), Rp 4,9 T, saham -6,88% Rp 5.075

6. Bank Mandiri (BMRI), Rp 4,9 T, saham -tiga,67% Rp 5.900

7. DMS Propertindo (KOTA), Rp 4,8 T, saham -33,54% Rp 214

8. Merdeka Copper (MDKA), Rp 4,4 T, saham +11,84% Rp dua.550

9. Tower Bersama (TBIG), Rp tiga,8 T, saham -dua,32% Rp dua.530

10. Bank Jago (ARTO), Rp tiga,4 T, saham +10,14% Rp 11.675

Pada perdagangan Selasa lalu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup naik 0,91% di posisi lima.815,88. Nilai transaksi harian mencapai Rp 11,77 triliun dengan volume perdagangan 21,12 miliar saham. Ada 283 saham melesat, 209 saham anjlok dan sisanya 153 saham stagnan.

Dengan demikian, IHSG dalam sepekan terakhir akumulatif minus 0,32% dan sebulan pula terkoreksi 2,98%.

Secara year to date atau tahun berjalan, IHSG turun dua,73%.

Adapun menurut sisi net-buy sell, pada perdagangan Selasa kemudian, asing masuk di semua pasar mencapai Rp 408,14 miliar. Sebulan terakhir asing net buy sebanyak Rp 943,44 miliar pada seluruh pasar, menggunakan catatan beli bersih di pasar reguler Rp 1,42 triliun.

Head of Research PT Panin Sekuritas Tbk (PANS), Nico Laurens menilai memang ada penurunan nilai transaksi saham ketika ini pada bursa saham domestik. Penurunan nilai transaksi tidak lain disebabkan, investor global lebih memilih menempatkan asetnya di bursa saham yang lebih defensif misalnya Eropa dan Amerika Serikat.

Hal tersebut sejalan dengan progres vaksinasi massal yang lebih cepat ketimbang pada Indonesia. Hal ini memicu keyakinan usaha juga consumer confident terjadi lebih cepat pada negara-negara maju.

Sebagai perbandingan saja, di AS, jumlah wargayang divaksinasi telah mencapai harga saham antm 30% sampai dengan 40% menurut total populasi, sedangkan Indonesia masih di bawah 10% populasi.

“Concern investor kondisinya lagi sedikit risk off sekarang, dari sisi alokasi aset lebih poly di capital market yang defensif pada Eropa & AS,” istilah Nico, pada wawancara menggunakan CNBC Indonesia,  pada acara Investime.

Sementara itu, di luar saham BBRI & BBCA, merangsek nama Bank Jago di urutan 10 akbar.

Selasa lalu, ssaham Bank Jago melesat mencapai all time high waktu naik 9,62% di level Rp 11.675/saham tertinggi sepanjang sejarah bank yang dulu bernama Bank Artos Indonesia ini.

Sebelumnya harga saham tertinggi ARTO terjadi pada 12 Maret 2021 yang mencapai Rp 11.375/saham & 22 Februari 2021 yakni Rp 10.900/saham. Pada 26 Juni 2020, saham ARTO masih pada level Rp 900/saham, meroket 1.197% setahun terakhir.

[Gambas:Video CNBC](tas/tas)